Selasa, 20 November 2012

respirasi 1, LA ODE ASFILAYLI, MAKALAH JURNAL PENELITIAN


SISTEM RESPIRASI I
DOSEN : LA ODE ASFILAYLI.A,S.Kep.,Ns.

MAKALAH
JURNAL PENELITIAN
KARSINOMA NASOFARING



OLEH
NAMA : INDAH RESTIKA BN
NIM : NH0111159


PROGRAM STUDI
ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANIDDIN MAKASSAR
2012
KATA PENGANTAR

         Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan penyusunan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “CARSINOMA NASOFARING”
 Makalah ini berisikan tentang informasi Pengertian carsinoma nasofaring,penyebab carcinoma nasofaring,penanganannya,serta manifestasi klinisnya.
Saya  menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.





                                                               Makassar,3 november 2012

                                                                                                           
                                                                     Indah Restika BN





DAFTAR ISI

Kata pengantar………………………………………………………………………...
Abstrak………………………………………………………………………………...Bab I Pendahuluan……………………………………………………………………………
            1.1Latar belakang………………………..……………………………………
            1.2Rumusan masalah…………………...……………………….……………..
            1.3Tujuan…..……………………………..……………………………………
1.4Metode……………….……………………..………………………….…………...1.5Hasil…………….……….…………………………………………………………..Bab II Pembahasan……………………………………………………………………………
            2.1Pengertian karsinoma nasofaring………………………………………….
            2.2epidemologo dan etiologi karsinoma nasofaring……………………………
            2.3tanda dan gejala…………………………………………………………….
            2.4pemeriksaan penunjang……………………………………………………
            2.5penatalaksanaan medis…………………………………………………….
            2.6karakteristik subjek penelitian……………………………………………..
            2.7ekspresi LMP-1 pada karsinoma nasofaring………………………………
            2.8ekspresi P53 pada karsinoma nasofaring………………………………….
2.9 korelasi antara ekspresi lmp-1 ebv dengan ekspresi p53 pada karsinoma    nasofaring
Bab III penutup…………,,,,,…………………………………………………………………..
            3.1kesimpulan……….…………………………………………………………
            3.2saran……………………………………………………………………….


ABSTRAK

Latar belakang: karsinoma nasofaring adalah keganasan pada sel epitel yang menutupi permukaan nasofaring. Terdapat tiga jenis klasifikasi histopatologis KNF menurut WHO: WHO 1 (karsinoma sel skuamosa berkeratin), WHO 2 (karsinoma sel skuamosa non keratin), dan WHO 3 (karsinoma tidak berdiferensiasi). WHO 3 menujukkan respon yang paling baik terhadap kemoradiasi, namun belum menjelaskan tentang  stadiumnya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara klasifikasi histopatologis dengan respon kemoradiasi berdasarkan gambaran CT-scan pasien karsinoma nasofaring, pada setiap stadium klinik.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Subjek penelitian adalah catatan medik pasien yang terdiagnosa secara klinik dan histopatiologis menderita karsinoma nasofaring, dan telah mendapatkan kemoradiasi di RS. Kariadi,Semarang pada 1 Januari 2007 sampai 31 Desember 2009. Uji hipotesis yang digunakan ialah uji komparatif Chi-square (X2) dan Fisher’s Exact.
Hasil: Terdapat 55 pasien karsinoma nasofaring yang telah mendapatkan terapi kemoradiasi. Pada stadium II dan III, 100% pasien WHO 3 dan 50% pasien WHO 2 menunjukan respon positif (respon parsial dan respon komplit). Hasil dari uji dengan Fisher’s Exact pada stadium II dan III, p=0.014. Pada stadium IV, 61.5% pasien WHO 2 dan 61.1% WHO 3 menunjukan respon positif. Hasil tes Chi square pada stadium IV, p=0.981.
Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara klasifikasi histopatologis dengan respon terhadap kemoradiasi berdasarkan gambaran CT scan pada pasien dengan karsinoma nasofaring pada stadium II dan III. Tidak terdapat hubungan bermakna antara klasifikasi histopatologis dengan respon terhadap kemoradiasi berdasarkan gambaran CT scan pada pasien dengan karsinoma nasofaring pada stadium IV.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor yang unik karena etiologi dan distribusi endemiknya.Faktor etnik dan daerah juga mempengaruhi risiko penyakit.1 Insiden KNF yang berbeda secara geografis dan etnik juga berhubungan dengan virus Epstein-Barr.Secara global, diperkirakan terdapat 65.000 kasus baru dan 38.000 kematian yang disebabkan oleh penyakit ini pada tahun 2000.Insiden kanker ini cukup jarang di beberapa negara, yakni hanya 0,6% dari semua keganasan.Insiden KNF di Amerika 1-2 kasus per 100.000 laki-laki dan 0,4 kasus per 100.000 perempuan. Namun tumor ini sangat banyak ditemukan di negara lain dan pada kelompok etnik tertentu, seperti di Cina, Asia Tenggara, Afrika Utara dan daerah Arctic.Insiden KNF tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan Cina bagian Selatan khususnya suku Kanton di propinsi Guang Dong dan daerah Guangxi dengan angka mencapai lebih dari 50 per 100.000 penduduk pertahun.Indonesia termasuk salah satu Negara dengan prevalensi penderita KNF yang termasuk tinggi di luar Cina.Data registrasi kanker di Indonesia berdasarkan histopatologi tahun 2003 menunjukan bahwa KNF menempati urutan pertama dari semua tumor ganas primer pada laki – laki dan urutan ke 8 pada perempuan .Dari keseluruhan KNF tersebut, proporsi KNF subtype nonkeratinizing carcinoma (WHO-2) dan undifferentiated carcinoma (WHO-3) adalah sama banyak, yaitu masing-masing 37,8%. Karsinoma nasofaring lebih sering pada laki-laki dibanding perempuan.Kanker ini dapat mengenai semua umur dengan insiden meningkat setelah usia 30 tahun dan mencapai puncak pada umur 40-60 tahun.




1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka di perlukan suatu penelitian tentang gambaran karakteristik penderita karsinoma nasofaring untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian bagaimanakah gambaran karakteristik penderita karsinoma nasofaring?

1.3 TUJUAN
1.3.1Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita karsinoma nasofaring

1.3.2Tujuan khusus
1.Untuk mengetahui distribusi umur pada penderita karsinoma nasofaring .
2.Untuk mengetahui distribusi jenis kelamin pada penderita karsinoma nasofaring .
3.Untuk mengetahui distribusi sukubangsa pada penderita karsinoma nasofaring .
4.Untuk mengetahui distribusi stadium pada penderita karsinoma nasofaring .
5.Untuk mengetahui distribusi keluhan utama pada penderita karsinoma nasofaring .
6.Untuk mengetahui distribusi tipe histopatalogis pada penderita karsinoma nasofaring 

1.4 METODE
Dikumpulkan data sekunder hasil penelitian sebelumnya (Hubungan Ekspresi Latent Membrane Protein-1 Virus Epstein-Barr dengan Subtipe Karsinoma Nasofaring), yaitu berupa identitas penderita dan ekspresi LMP-1. Data untuk penelitian tersebut merupakan data sekunder pasien KNF Januari 2007 – Juni 2010 dari laboratorium PA FK. Unand, RSUP. Dr M.Djamil Padang dan RSUD. Achmad Muchtar Bukittinggi. Selanjutnya dari blok parafin yang sama dengan penelitian sebelumnya tersebut, dipotong lagi dan dilakukan pulasan imunohistokimia untuk menilai ekspresi p53.Deparafinisasi dilakukan dengan xylol dan rehidrasi dengan alkohol. Pulasan imunohistokimia menggunakan teknik baku streptavidin-biotin dengan antibodi monoklonal p53 (Dako). Ekspresi p53 positif terlihat sebagai granula coklat pada inti sel. Kemudian dihitung jumlah sel tumor yang ekspresinya positif pada 500 sel tumor yang dibagi dalam 5 LPB (400x) Korelasi antara ekspresi LMP-1 dengan ekspresi p53 diuji dengan menggunakan uji Korelasi Pearson. Nilai p <0,05 dianggap bermakna secara statistik.

1.5 HASIL
Sampel terdiri dari 55 catatan medik pasien karsinoma nasofaring yang memenuhi kriteria pada penelitian ini, diambil secara consecutive sampling.Berdasarkan jenis kelamin, jumlah pasien yang terbanyak ialah perempuan 30 orang (54.5 %). Berdasarkan umur, jumlah pasien yang terbanyak ialah kelompok umur 41-50 tahun, yaitu 18 orang (32.7 %). Pasien termuda dengan umur 14 tahun,dan pasien tertua dengan umur 65 tahun. Dalam penelitian ini, tidak ditemukan pasien stadium I yang datang untuk mendapatkan pengobatan, sebagian besar dating pada stadium lanjut. Jumlah pasien yang terbanyak datang pada stadium IV, yaitu 31 orang (56.4%). Menurut klasifikasi histopatologis, pasien terbanyak didiagnosisdengan WHO tipe 3 (undifferenciated carcinoma), yaitu 30 orang (45.5%), dan tidak ditemukan adanya pasien dengan WHO tipe 1 (keratinizing squamous cell carcinoma).Sampel dalam penelitian ini terbagi menjadi dua berdasarkan stadium kliniknya. Berdasar stadium klinik, terdapat 24 (44%) pasien yang datang pada stadium II dan III, serta 31 pasien (56%) pada stadium IV.
Respon kemoradiasi berdasarkan gambaran CT-Scan pasien karsinoma nasofaring, disajikan dalam 2 kategori, yaitu:
1. Respon positif, yang mewakili: respon komplit (complete response) dan respon parsial (partial response)
2. Tidak berespon, yang mewakili: tidak ada perubahan (no change) dan progresif buruk (progressive disease)



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah epithelial selapis nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal146)

2.2 EPIDEMIOLOGI DAN ETIOLOGI
Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor yang unik karena etiologi dan distribusi endemiknya.Faktor etnik dan daerah juga mempengaruhi risiko penyakit. Insiden KNF yang berbeda secara geografis dan etnik juga berhubungan dengan virus Epstein-Barr.3 Secara gobal,diperkirakan terdapat 65.000 kasus baru dan 38.000 kematian yang disebabkan oleh penyakit ini pada tahun 2000. Insiden kanker ini cukup jarang di beberapa negara, yakni hanya 0,6% dari semua keganasan. Insiden KNF di Amerika 1-2 kasus per 100.000 laki-laki dan 0,4 kasus per 100.000 perempuan. Namun tumor ini sangat banyak ditemukan di negara lain dan pada kelompok etnik tertentu, seperti di Cina, Asia Tenggara, Afrika Utara dan daerah Arctic.Insiden KNF tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan Cina bagian Selatan,khususnya suku Kanton di propinsi Guang Dong dan daerah Guangxi dengan angka mencapai lebih dari 50 per 100.000 penduduk pertahun.Indonesia termasuk salah satu Negara dengan prevalensi penderita KNF yang termasuk tinggi di luar Cina.8 Data registrasi kanker di Indonesia berdasarkan  histopatologi tahun 2003 menunjukan bahwa KNF menempati urutan pertama dari semua tumor ganas primer pada laki – laki dan urutan ke 8 pada perempuan . Dari keseluruhan KNF tersebut, proporsi KNF subtype nonkeratinizing carcinoma (WHO-2) dan undifferentiated carcinoma (WHO-3) adalah sama banyak, yaitu masing-masing 37,8%.10 Karsinoma nasofaring lebih sering pada laki-laki dibanding perempuan.3-5 Kanker ini dapat mengenai semua umur dengan insidens meningkatsetelah usia 30 tahun dan mencapai puncak pada umur 40-60 tahun.3 Kasus KNF juga pernah dilaporkan terjadi pada anak-anak dibawah usia 15 tahun.Sayang sekali tumor ganas ini tidak mempunyai gejala yang spesifik, bahkan seringkali tanpa gejala,sehingga hal ini menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis dan terapi. Bahkan pada lebih dari 70% kasus gejala pertama berupa limfadenopati servikal,yang merupakan metastasis KNF.Berdasarkan klasifikasi histologi WHO tahun 1978, KNF dibagi menjadi tiga subtipe yaitu; squamous cell carcinoma (WHO-1), nonkeratinizing carcinoma (WHO-2) dan undifferentiated carcinoma (WHO-3).3 Undifferentiated carcinoma (WHO-3) merupakan subtipe histologi yang utama di daerah endemik, sementara WHO-1 jarang (<5%).Terdapat tiga faktor etiologi utama yang berhubungan dengan KNF yaitu infeksi EBV, kerentanan genetic dan faktor lingkungan.2,3,7 Di daerah endemik, infeksi EBV terutama berkaitan dengan KNF subtipe WHO-2 dan WHO-3, sedangkan untuk subtipe WHO-1 masih menjadi perdebatan.Virus Epstein-Barr yang ditransmisikan melalui saliva yang terinfeksi ke tempat pertama infeksinya, yaitu sel-sel epitel orofaring akan memasuki sel, bersifat menetap (persisten),tersembunyi (laten) dan sepanjang masa (long life). Hal ini membuat sel yang terinfeksi menjadi immortal melalui induksi transformasi pertumbuhan yang permanen.Infeksi EBV yang laten dan persisten tersebut pada KNF menunjukkan pola laten tipe II yang ditandai dengan ekspresi EBV nuclear antigen (EBNA) -1,latent membrane protein (LMP) -1, 2 dan EBVencoded RNA (EBER).3,15 LMP-1 merupakan gen laten EBV yang pertama ditemukan yang dapat mentransformasi galur sel dan merubah fenotip sel karena potensial onkogeniknya.15 LMP-1 merupakan onkogen virus yang mirip reseptor permukaan sel yang dapat mencegah sel yang terinfeksi EBV dari apoptosis dengan menginduksi protein anti-apoptotik seperti BCL-2, A20 dan MCL-1. LMP-1 juga terlibat dalam jalur pensinyalan yang mengatur proliferasi sel dan apoptosis yaitu memicu progresifitas dan proliferasi sel melalui siklus sel (fase G1/S) dan inhibisi apoptosis.Gen p53 merupakan salah satu dari gen supresor tumor. Gen ini mendeteksi kerusakan DNA,membantu perbaikan DNA melalui penghentian fase G1 dari siklus sel dan memicu gen yang memperbaiki DNA. Sel yang mengalami kerusakan DNA dan tidak dapat diperbaiki diarahkan oleh p53 untuk mengalami apoptosis. Apabila terjadi kehilangan p53 secara homozigot, kerusakan DNA tidak dapat diperbaiki dan mutasi akan terfiksasi pada sel yang membelah sehingga sel akan mengalami transformasi keganasan.Gen p53 merupakan gen yang sering mengalami mutasi pada tumor manusia. Hampir lebih dari 50% tumor pada manusia mengandung mutasi gen ini.7,16 Fungsi gen p53 dapat diinaktivasi oleh berbagai mekanisme, diantaranya oleh beberapa virus DNA tertentu. Salah satu virus DNA tersebut mungkin EBV. Virus Epstein-Barr dapat mengikat protein p53 normal dan menghilangkan fungsi protektifnya.Penelitian imunohistokimia memperlihatkan bahwa infeksi EBV pada KNF berhubungan dengan akumulasi protein p53, bukan dengan protein BCL-2. Namun penelitian lain menyimpulkan bahwa EBV merupakan faktor etiologi yang penting yang mungkin melibatkan over ekspresi p53 dan BCL-2.Perkembangan KNF melibatkan hilangnya gen supresor tumor. Namun mekanisme inhibisi supresor tumor ini, unik pada KNF. Pada kebanyakan kanker kepala dan leher, kadar p53 yang rendah disebabkan oleh mutasi. Namun, p53 pada KNF tidak mengikuti pola klasik ini.17 Tidak adanya mutasi p53 pada KNF memberi kesan bahwa suatu protein virus dapat mengganggu fungsi p53.Dari suatu penelitian didapatkan bahwa sel-sel KNF mempunyai kadar p53 yang meningkat, dengan kadar LMP-1 yang tinggi berkorelasi dengan ekspresi p53 yang lebih tinggi.Mutasi p53 relatif jarang pada KNF, sehingga mayoritas p53 yang diekspresikan adalah wild type.Wild type p53 ini gagal menginduksi apoptosis pada KNF.17 Pemeriksaan ekspresi LMP-1 dan p53 bisa dilakukan secara imunohistokimia (IHK) dari jaringan tumor KNF.Pada penelitian ini ingin dibuktikan korelasi antara ekspresi Latent Membrane Protein -1 virus Epstein-Barr dengan ekspresi p53 pada karsinoma nasofaring.
            Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500 kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan,lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460).
Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty&Nurbaiti,2001hal146).

2.3 TANDA DAN GEJALA
Berkait dengan hal tersebut, maka gejala yang timbul pada karsinoma nasofaring cukup kompleks dan digolongkan dalam 4 kelompok yaitu:
     1.Gejala nasofaring
Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung. Hal ini perlu pemeriksaan cermat seperti nasofaringoskop.
     2.Gejala telinga
Letak nasofaring yaitu dekat dengan muaratuba eustakius, sehingga ganggua yang timbul dapat berupa tinitus, rasa tidak enak ditelinga bahkan kadang-kadang timbul nyeri pada telinga (otolgia).
     3.Gejala mata
Nasofaring berhubungan dan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang. Penjalaran dari karsinoma melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak iii, iv dan vi. Gejala yang nampak dari gangguan tersebut adalah diplopia dan neuralgia trigeminal.
      4.Gejala saraf
Proses karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ix, x, xi dan xii. Penderita akan mengalami kesulitan dalam mrngunyah.
2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

a.Nasofaringoskopi
b.Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan mulut. Dilakukan dengan anestesi topikal dengan Xylocain10%.
c. Pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher   untuk    mengetahui keberadaan tumor sehingga tumor primer yang tersembunyi pun akan ditemukan.
d. Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mengetahui infeksi virusE-B.
e.Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.
(Efiaty&Nurbaiti,2001).

2.5 PENATALAKSANAAN MEDIS

a.Radioterapi.merupakan’pengobatan,utama.
b. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin.dan.antivirus.Pemberian   ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil. Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan radiasi yang bersifat radiosensitizer.

2.6 KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN
Pada penelitian ini didapatkan kelompok usia terbanyak penderita KNF adalah pada usia 51-60 tahun. Usia insiden KNF yang terbanyak pada penelitian ini sesuai dengan yang didapatkan dari kepustakaan bahwa umumnya insiden KNF mencapai puncaknya pada umur 40-60 tahun.Pola distribusi usia KNF bervariasi pada berbagai daerah yang berbeda di dunia. Hirayama melaporkan bahwa insiden pada kedua jenis kelamin dimulai setelah usia 20-24 tahun dan stabil antara umur 45-54 tahun. Commoun et al. melaporkan usia puncak yang lebih muda di Tunisia yang merupakan daerah dengan insiden KNF menengah, yaitu 10-19 tahun disamping usia puncak 50-59 tahun. Frekuensi KNF yang relative tinggi ini diantara populasi muda merupakan gambaran khas di area dengan insiden menengah,yaitu Uganda, Kenya, Sudan dan Tunisia. Hirayama juga melaporkan bahwa bahwa usia puncak pada remaja jarang terjadi pada suku Cina di Amerika.Balakrishnan et al. juga mengamati suatu distribusi usia bimodal dengan puncak pada kelompok umur 15-24 tahun dan 45-54 tahun pada penduduk India.Terdapat 3 kasus KNF pada anak berusia dibawah 15 tahun (satu orang berumur 11 tahun dengan subtipe WHO-3, dua orang berumur 13 tahun,yaitu satu orang dengan subtipe WHO-1 dan yang lain WHO-3). Penelitian KNF pada anak dibawah usia 15 tahun (suatu tinjauan retrospektif dari 65 kasus) yang dilakukan oleh Sahraoui et al., 1999, di Casablanca, didapatkan frekuensi subtipe WHO-3 sebanyak 81%.11 Peneliti lain juga pernah menemukan penderita KNF termuda yang berumur 4 tahun.Insiden KNF pada anak-anak mempunyai variasi yang luas tergantung pada faktor ras dan geografis.Laki-laki merupakan penderita KNF terbanyak pada penelitian ini, dengan ratio laki-laki dan perempuan adalah 1,72:1. Hasil yang didapatkan ini tidak jauh berbeda dengan yang didapatkan dari kepustakaan bahwa KNF lebih sering pada laki-laki daripada perempuan.3,6 Lebih banyaknya penderitaKNF pada laki-laki dibanding perempuan mungkin ada kaitannya dengan kebiasaan merokok pada laki-laki. Peneliti terdahulu mendapatkan bahwa orang yang merokok selama sepuluh tahun atau lebih mempunyai risiko yang tinggi terhadap KNF.19 Lin et al. (dikutip dari19) menemukan bahwa merokok dan bekerja pada tempat berventilasi jelek sangat kuat kaitannya dengan KNF. Pada penelitian ini didapatkan KNF subtype WHO-2 merupakan subtipe yang terbanyak. Di daerah endemik Cina, mayoritas KNF adalah subtipe WHO-2 dan WHO-3. Sebaliknya, di daerah non endemic seperti Amerika, WHO-1 merupakan subtipe yang terbanyak.12 Infeksi Epstein-Barr Virus berkaitan erat dengan subtipe WHO-3 dan sebagian dengan subtype WHO-2, namun tidak dengan subtipe WHO-1.13 Jadi kemungkinan besar infeksi EBV juga merupakan faktor risiko KNF pada penelitian ini.

2.7 EKSPRESI LMP-1 PADA KARSINOMA NASOFARING

Pada penelitian ini, secara imunohistokimia umumnya didapatkan ekspresi LMP-1 positif, yaitu pada 91,8% kasus. Hasil ini dapat menggambarkan bahwa infeksi EBV memang merupakan faktor risiko terbesar pada kasus KNF ini, sama seperti daerah endemik lainnya. Dari kepustakaan didapatkan bahwa LMP-1 sering terdeteksi pada biopsi KNF tetapi dengan variasi yang luas diantara masing-masing tumor. Berdasarkan laporan yang terbanyak dari berbagai belahan dunia, kira-kira 50%-60% biopsy KNF, LMP-1 dapat divisualisasikan pada mayoritas sel-sel tumor dengan menggunakan teknik imunohistokimia. LMP-1 yang diekspresikan sangat bervariasi pada spesimen KNF diduga tidak hanya berperan dalam onkogenesis, tetapi juga dalam memelihara sifat laten virus.

2.8 EKSPRESI P53 PADA KARSINOMA NASOFARING

Pada penelitian ini, secara imunohistokimia umumnya didapatkan ekspresi p53 positif, yaitu pada 97,9% kasus. Demikian juga dengan Sheu et al.,21 mendeteksi 95% protein p53 pada inti sel tumor. Hasil yang hampir sama juga didapatkan oleh Suharto dkk,22 yaitu ekspresi p53 positif pada 89,8% kasus KNF. Penelitian yang dilakukan oleh Taweevisit,23 di Bangkok pada 60 kasus KNF subtipe WHO-3, mendapatkan hasil adanya overekspresi protein p53pada 73% kasus. Hal ini menunjukkan bahwa protein p53 berkaitan erat dengan tumorigenesis KNF. Sebagian besar KNF menunjukkan overekspresi p53 dan mayoritas p53 ini merupakan wild type p53 (normal) yang mungkin merupakan respon terhadap infeksi EBV.  Terekspresinya p53 secara berlebihan pada KNF  tidak disebabkan oleh protein p53 jenis mutan. Beberapa laporan menunjukkan mutasi jarang terjadi pada KNF.

2.9 KORELASI ANTARA EKSPRESI LMP-1 EBV DENGAN EKSPRESI P53 PADA KARSINOMA NASOFARING

Analisis imunohistokimia spesimen KNF pada penelitian ini memperlihatkan korelasi positif antara ekspresi LMP-1 dan ekspresi p53. Hasil penelitian yang didapatkan oleh Shaoi et al.,25 mengindikasikanbahwa akumulasi p53 pada KNF secara signifikan berkorelasi dengan overekspresi LMP-1. Penelitian ini mendapatkan hasil yang sama dengan teori dari literatur yang ada, yaitu sel – sel KNF mempunyai kadar p53 yang meningkat, tingginya kadar LMP-1 berkorelasi dengan semakin tingginya ekspresi p53.17 LMP-1 menghambat pengaruh penekanan wild type p53 sehingga terjadi pertumbuhan dan progresi tumor. LMP-1 juga mampu mengalahkan hambatan pertumbuhan yang dirangsang oleh wild type p53. Disamping itu, LMP-1 dapat bekerjasama dengan p53 mutan untuk menimbulkan pertumbuhan sel-sel KNF.













BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Karsinoma Nasofaring merupakan tumor ganas yang timbul pada epithelial pelapis ruangan dibelakang hidung (nasofaring) dan ditemukan dengan frekuensi tinggi di Cina bagian selatan.Terdapat tiga faktor etiologi utama yang berhubungan dengan KNF yaitu infeksi EBV, kerentanan genetik dan faktor lingkungan. Umumnya (91,8%) KNF mengekspresikan LMP-1 EBV. Umumnya (97,9%) KNF mengekspresikan p53. Terdapat korelasi positif antara ekspresi LMP-1 dengan ekspresi p53, walaupun korelasi ini lemah.


3.2 SARAN
Saya menyarankan untuk memberikan perhatian lebih dan penelitian yang lebih mendalam lagi mengenai penyakit Karsinoma Nasofaring, dengan adanya penelitian yang lebih mendalam diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih bagi masyarakat agar kedepannya masyarakat dapat lebih waspada sehingga Karsinoma Nasofaring dapat dicegah.









DAFTAR PUSTAKA

Adams, George. TumorTumor Ganas Kepala dan Leher. Dalam: Adams,George. Buku Ajar telinga Hidung Tenggorok BOIES, edisi 6.Jakarta:EGC;1997. p.429-445

Asroel, Harry. Penatalaksanaan Radioterapi Pada Karsinoma Nasofaring.Medan:Bagian THT-KL Universitas Sumatera Utara (Updated: 2 Juni 2008).Diakses dari:

Andirius, Chung Tanjungpura. Refrat Kepala dan Leher. Pontianak:SMF THT Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soedarso Fakultas Kedokteran Universitas.(Updated:05 Oktober 2009). Diakses dari: http://www.scribd.com

Anonim. Perbedaan Terapi Radiasi dan Kemoradiasi Terhadap Kesembuhan Kanker Nasofaring. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta; 2009. Diakses dari: http://fk.uns.ac.id

Close, Lanny Garth. Clinical Radiation Biology and Radiotherapy. Dalam:
 Van De Water,Thomas R. Otolaryngology, Basic Science and Clinical Review.New York:
 Thieme Medical Publishers, Inc;2006. 158-162

Hayati. Gambarang Karsinoma Nasofaring yang Dirawat Inap di RSUP Dr.Kariadi periode 1 Januari 2001 – 31 Desember 2002. Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro ; 2003.

Katoleksono, Sukonto. Tomografi Komputer. Dalam: Rasad, Sjahriar.Radiologi Diagnostik, edisi ke 2. Jakarta: Departemen Radiologi Universitas Indonesia; 2005.p573-590

Lo, Simon. Nasopharynx, Squamous Cell Carsinoma (online). 2009 (Updated:Februari2009). Diakses dari: http://www.emedicine.com/radio/topic551.htm

Rao, Yashoda. General Principles radiation Therapy for Head and Neck Malignancy. Dalam: McQuarrie, Donald. Head and Neck Cancer – Clinical Decision and Management Principles. Chicago: Year Book Medical Publishers, inc;1986.p.111-131

Roezin, Averdi. Karsinoma Nasofaring. Dalam : Soepardi, Efiaty Arsyad.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung tenggorok Kepala dan Leher.Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.p.182-198

Roosadi, Kristiawan Abri. Kanker Nasofaring (Kanker no 1 di bidang THT).2009. Updated:7 Mei 2009. Diakses dari:http://thtkl.wordpress.com/2009/05/07/kanker-nasofaring-kanker-no-1-dibidang-tht

Rusdiana. Hubungan Antibodi Anti Epstein Barr Virus dengan Karsinoma Nasofaring pada Pasien Etnis Batak di Medan. Medan : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2006

WHO. Handbook For Reporting Results For Cancer Treatment. Geneva: World Health Organisation. ; 1979

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar